Proses pertumbuhan bambu merupakan proses alami pergantian generasi dari reproduksi aseksual dan pertumbuhan vegetatif ke reproduksi seksual dan pertumbuhan reproduksi, dengan siklus sekitar 60 tahun. Setelah bambu berbunga dan berbuah, batang bambu tersebut menggugurkan daunnya dan tidak lagi menumbuhkan daun baru hingga layu dan mati. Cambuk bambu bawah tanah tidak lagi menumbuhkan akar dan pucuk baru, tetapi menjadi hitam dan membusuk. Secara umum bambu hanya tumbuh tinggi, dan ketebalan bambu ditentukan pada saat ia bertunas, sehingga ketebalan rebung menentukan ketebalan bambu.
Bambu tumbuh sangat cepat, terutama beberapa jenis bambu, seperti bambu moso yang bahkan bisa tumbuh beberapa sentimeter setiap harinya. Dalam empat tahun pertama, bambu hanya bisa tumbuh sekitar 3 cm, dan 3 cm tersebut masih terkubur jauh di bawah tanah. Namun pada tahun kelima, tunas tersebut keluar dari tanah dan mulai tumbuh liar, tumbuh 30 cm setahun. Hanya dalam waktu enam minggu, tingginya bisa mencapai 15 meter.
Selain itu, pertumbuhan bambu dibagi menjadi beberapa tahap antara lain perkecambahan, pertumbuhan, kematangan dan penuaan. Pada suhu, kelembapan dan kondisi cahaya yang sesuai, kecambah bambu membutuhkan air dan unsur hara yang cukup untuk mendukung pertumbuhan kecambah. Kemudian kecambah mulai tumbuh dan lambat laun membentuk batang bambu, yang membutuhkan sinar matahari dan karbon dioksida yang cukup untuk fotosintesis guna menghasilkan nutrisi bagi pertumbuhan batang bambu. Kemudian batang bambu tersebut berangsur-angsur tumbuh dan membentuk dahan dan daun bambu yang perlu terus menyerap unsur hara dan air untuk menunjang pertumbuhan dahan dan daun bambu. Akhirnya setelah tumbuh sampai umur tertentu, lambat laun bambu akan memasuki masa penuaan, yang mana pada saat itu laju pertumbuhan bambu akan melambat, batang dan daun bambu lambat laun menguning, dan akhirnya mati.
